Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi ? Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi ?

Juli 14, 2019


         Bali terkenal bukan hanya dari alam yang indah dan budaya yang dimilikinya selain itu bali juga memiiki keindahan yang terpendam yaitu bahasa, aksara dan sastra bali yang sangat adi luhur. Tak banyak dari kita saat ini menggunakan bahasa, aksara dan sastra bali dalam kehidupan bermasyarakat padahal itu merupakan warisan leluhur kita yang perlu dijaga keberadaannya. Banyak orang lebih memilih menggunakan bahasa non bali dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan keberadaan bahasa, aksara dan sastra bali mulai memudar dikalangan masyarakat. Kita sebagai masyarakat bali pada khususnya harus bangga ketika kita menggunakan dan mencintai bahasa, aksara dan sastra bali yang kita miliki dan sebaliknya jangan pernah merasa malu untuk menggunaan bahasa, aksara dan sastra bali yang menjadi wahana tumbuh dan berkembangnya kebudayaan bali.

(sumber : https://paduarsana.com/2018/05/18/pura-tap-sai-rendang-karangasem/)

            Seperti pepatah yang mengatakan kalau bukan kita, siapa lagi ? kalau bukan sekarang, kapan lagi ? Sebagai generasi millenial harus terus memberikan contoh yang baik terhadap kelangsungan bahasa, aksara dan sastra bali kedepannya, contohnya dengan zaman yang serba digital ini generasi millenial sekarang harus berani keluar dari zona nyaman dan membuat konten-konten yang berisikan bahasa, aksara dan sastra bali misalnya membuat vlog dengan bahasa, aksara dan sastra bali, membuat konten blog dengan bahasa, aksara dan sastra bali, membuat konten youtube dengan bahasa, aksara dan sastra bali serta masih banyak yang bisa dilakukan dengan bantuan media sosial dan internet. Karena tanpa kita sadari bahasa, aksara dan sastra bali akan terus digunakan dalam kehidupan masyarakat khususnya kehidupan masyarakat Bali itu sendiri. Ketika tidak dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk belajar dan mengasah  serta menggunakan bahasa, sastra dan aksara bali yang kita miliki terus siapa lagi yang kita suruh apakah masyarakat lain diluar sana, jangan sampai kita dikalahkan oleh orang dari “dauh tukad”. Karena diluar sana sudah ada contoh orang luar lebih mencintai bahasa, aksara dan sastra bali.

(sumber : https://www.balipuspanews.com/siswi-muslim-ikut-semarakan-menulis-lontar-massal-di-gedung-ksiarnawa.html)

            Sebagai generasi millenial dan masyarakat bali harus ikut andil dalam membantu program pemerintah daerah khususnya Pergub No. 80  Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra bali serta penyelenggaraan bulan bahasa bali. Masyarakat bali pada khususnya harus mampu menerapkan Pasal 3,4,5,6,7, dan 8 dalam penggunaan bahasa bali, aksara bali dan penyelenggaraan bulan bahasa bali dalam Pergub No. 80 Tahun 2018. Selain itu pemerintah daerah tanpa segan akan memberikan penghargaan kepada perseorangan, kelompok, dan/atau lembaga yang berjasa terhadap kemajuan bahasa, aksara, dan sastra bali dengan memberikan penghargaan Bali Kerti Nugraha Mahotama terhadap sebanyak-banyaknya 3 (tiga) penerima dengan melibatkan 7 (tujuh) orang penilai yang sesuai dengan isi Pasal 12 dan 13. 

(sumber : http://www.balipost.com/news/2018/10/05/57746/Krama-Bali-Diharapkan-Mendukung-Penggunaan...html)

Selain pergub diatas, pemerintah harus memperhatikan dunia pendidikan khususnya pendidikan bahasa bali. Bagaimana nantinya pendidikan bahasa bali bisa menambah jam pelajaran dan tentunya lebih dari sekali dalam seminggu. Hal ini bertujuan untuk membiasakan dan mengasah kemampuan peserta didik bali agar mampu bekomunikasi yang baik dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan ikut andilnya pemerintah dan peran aktif dari semua kalangan bahasa, aksara dan sastra bali akan tetap ajeg dan manjadi warisan pada generasi selanjutnya serta mejadi warisan budaya Indonesia dan warisan budaya Dunia.



You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman