Bali Bukan Pulau Plastik
Juli 14, 2019
Adakah seseorang yang tidak mengenal
Pulau Bali ? Iya Bali. Sebuah pulau kecil yang penuh pesona, yang mampu membuat
semua orang terpana. Pulau seribu pura, pulau dewata, pulau surga, begitulah
cara mereka untuk menggambarkan pulau kecil yang penuh dengan keindahan ini. Namun
seiring berjalannya waktu apakah pulau ini masih akan tetap indah sesuai dengan
sebutan orang yang mencintainya? Tentu jawabannya bervariasi ada yang
mengatakan akan tetap indah
dan ada yang mengatakan akan “benyah”. Dan
semua dituntut untuk optimis bahwa bali akan tetap ajeg. Tetapi apakah hanya sebatas kata optimis Bali bisa
terselamatkan ? Tentu harus diikuti dengan aksi nyata dari semua kalangan.
(sumber: https://www.rentalmobilbali.net/10-pura-terbaik-di-bali/)
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga Bali agar tetap ajeg
salah satunya yaitu dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai dalam
aktivitas sehari-hari. Kenapa harus plastik ? Karena kita ketahui bahwa sampah plastik
sangat sulit terurai, membutuhkan waktu
sampai ratusan tahun bahkan
ribuan tahun untuk hancur. Apa akibatnya? Sampah plastik akan terus tertimbun dan
mencemari lingkungan. Kalian pasti
sudah sering membaca artikel, atau menonton berita diberbagai media bahwa ada
banyak makhluk hidup yang menderita akibat adanya sampah plastik ini. Dan tahukah kalian bahwa setiap hari Bali menghasilkan 4.281 ton sampah atau 1,5 juta ton tiap
tahun. Dari jumlah tersebut, lebih banyak sampah yang tidak dikelola (52
persen), dari pada yang dikelola (48 persen) (Anton, 2019). Jika ini terus
berlanjut bagaimanakah Bali kedepannya ? Iya.. Ekosistem akan terganggu, misalnya
tanah akan tercemar dengan sampah plastik yang membuat tumbuhan sulit untuk hidup, selain itu sampah plastik juga mengurangi kemurnian air dan bisa membunuh
cacing yang pada hakikatnya untuk menggemburkan tanah dan pada
akhirnya akan menyebabkan buruknya
kualitas tanah serta secara tidak langsung akan berdampak terhadap tanaman dan manusia itu sendiri. Tak terhenti
disana penyakit juga akan merajalela seperti diare, tifus, deman berdarah, jamur, cacing pita dan
lain sebagainya (Rheza, 2018).
(sumber : https://www.pontianakpost.co.id/ketika-pantai-pantai-di-badung-bali-%E2%80%99%E2%80%99dikirimi%E2%80%99%E2%80%99-berton-ton-sampah)
Apakah dengan
hal diatas kita dengan gagahnya berani mengatakan bali akan tetap indah ?. Tentu hal itu
akan menjadi sebuah kenangan semata.
Supaya tidak menjadi sebuah
kenangan kita yang lahir di Bali, menghirup udaranya, meminum airnya, menginjak tanahnya, memakan
isi alamnya, harus memberikan perlindungan kepadanya, yaitu
dengan tidak lagi menggunakan PSP (Plastik Sekali Pakai) dalam
kehidupan sehari-hari, mari mulai
sekarang beralih menggunakan
kantong-kantong yang ramah lingkungan dan bukan PSP. Selain itu kita harus
terbiasa membuang sampah pada tempatnya supaya bali tetap ajeg dan lestari.
(Ket. Saya bersama teman-teman pemuda melakukan pembersihan disalah satu tempat di Desa Abang, Karangasem, Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Dengan dampak yang signifikan yang ditimbulkan oleh sampah plastik membuat pemerintah
daerah mengambil tindakan nyata dengan menerbitkan Pergub No. 97 Tahun 2018 tentang pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai. Hal ini berlaku untuk seluruh masyarakat bali sesuai dengan pasal 11 ayat
(1) dan (2) yang menyebutkan perangkat daerah, unit pelaksana teknis
daerah, instansi pemerintah lainnya, badan usaha milik daerah, badan layanan
umum daerah, lembaga swasta, lembaga keagamaan, lembaga sosial, desa adat/desa pakraman, masyarakat dan perorangan dilarang menggunakan
PSP dalam setiap
kegiatan sehari-hari atau kegiatan sosial serta wajib menggunakan produk pengganti
PSP. Masyarakat yang melanggar ketentuan ini akan dikenakan sanksi
administratif sesuai peraturan perundang-undangan. Selain itu masyarakat yang
taat melaksanakan ketentuan dalam peraturan gubernur ini dapat diberikan
penghargaan oleh pemerintah daerah
berupa piagam penghargaan, bantuan dana pengelolaan sampah, dan/atau bantuan modal usaha. Mari sukseskan Pergub No. 97 Tahun 2018 karena ini bukan tentang aku, dia dan mereka tapi ini
tentang kita dan alam semesta. Semoga bali tetap Pulau Surga bukan Pulau
Plastik.
Mata bhumi
putro’ham prthivyah
(Atharva Veda 12.1.12)
“Bhumi adalah ibuku dan Aku adalah putra Bhumi Pertiwi”
Satyam Eva Jayate !!!


0 komentar