Ikhlas Bukan Kuantitas

Juni 17, 2018

Bicara masalah Agama Hindu tidak terlepas dari ritual yang dilaksanakan apalagi yang berada di Pulau Bali. Sebagai Agama Hindu yang tinggal di Pulau Bali barang tentu sudah tidak asing melihat berbagai ritual yang ada mulai dari yang kanista hingga yang utama. Namun yang kita lihat banyak masyarakat Hindu di Bali yang menyalah artikan makna dari sebuah ritual atau yang lebih dikenal dengan nama yadnya. Yadnya kita ketahui merupakan persembahan suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dengan dasar dharma.

(sumber: http://phdi.or.id)

Dalam pelaksanaannya, tak sedikit orang yang menyalahartikan makna dari yadnya tersebut. Mereka seakan berlomba untuk menghaturkan sesajen (banten) dengan menggunakan buah-buahan mahal, jajanan dengan brand tertentu, sampai ada yang menggunakan minuman-minuman kaleng sekalipun. Meskipun pada kenyaataannya, mereka tidak cukup mampu untuk melakukan itu. Seringkali yadnya ini dilakukan dengan menghutang kepada orang lain hanya untuk memuaskan keinginannya. Padahal dalam weda yaitu pancama weda atau weda kelima yang sering disebut Bhagavad Gita sudah dijelaskan dalam Adhyaya IX Sloka 26 yang berbunyi sebagai berikut :

patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ
yo me bhaktyā prayacchati
tad ahaḿ bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ

Terjemahan
Mereka yang dengan penuh rasa bhakti mempersembahkan kepada-ku (walaupun hanya selembar daun), (sekuntum) bunga, (satu) buah dan (setetes) air, (jika) semua itu dipersembahkan dengan penuh bhakti oleh mereka yang berhati suci murni, maka Aku akan menerimanya.

Secara singkatnya bisa diartika bahwa Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak mengingikan begitu banyak persembahan namun cukup dengan daun, bunga, buah dan air jika semua itu didasari dengan rasa tulus dan ikhlas maka Tuhan akan menerimanya tanpa perlu kita menghabisakan banyak uang namun didasari dengan ketidaktulusan.

(sumber: http://sejarahharirayahindu.blogspot.com)

Mungkin banyak masyarakat hindu belum mengetahui sloka yang disebut diatas, karena sebagai masyarakat hindu harus kita sadari bawasannya Ida Sang Hyang Widi Wasa tidak menuntut agar kita menyembahkan begitu banyak persembahan namun yang beliau inginkan bagaimana kita mampu mempersembahkan sesuatu dengan rasa bhakti dan tulus ikhlas. Saya bangga akan ajaran agama hindu yang tidak menuntut lebih dari umatnya. Ketika kita mempunyai hal yang lebih sewajarnya kita beryadnya dengan beliau namun ketika kita tidak punya apa-apa jangan “sok” memiliki banyak dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan untuk diri sendiri.  

        Kita sebagai generasi muda sepantasnya meluruskan apa yang patut untuk diluruskan agar kedepannya agama yang kita cintai ini terus berkembang dan semakin banyak untuk yang menganut ajaranya yang begitu luhur dan berpegang teguh akan ajaran kebenaran “dharma”. Karena ketika kita lihat ajaran agama hindu tidak ada yang memberatkan umatnya namun kita sebenarnya menyalahartikan semua yang ada, yang masih beranggapan bahwa ketika kita mempersembahkan sesuatu yang banyak maka pahala yang kita dapatkan juga begitu banyak. Namun dibalik persembahan yang “maha agung” itu terdapat berbagai kendala yang membuat kita tidak ikhlas dalam melakukan yadnya.

            Seperti kata orang tua dulu “sesuaiang ajak isin kantong” yang artinya sesuaikan dengan uang yang kita miliki jangan sampai biar kelihatan “wahhh” mengorbankan asas yadnya itu sendiri. Karena di era digital ini banyak masyarakat yang mengunggah banten atau persembahan ke sosial media untuk mendapatkan simpati atau like yang begitu banyak. Tuhan juga mengetahui mana yang benar-benar tulus beryadnya dan mana yang hanya untuk mencari sensasi atau pamer semata.

            Karena agama hindu tidak pernah memberatkan umatnya, maka dari itu kita pantas bilang Agama Hindu itu keren, hebat, indah, damai, universal, suci, dharma dan lain sebagainya. Sepantasnya juga kita semua meneriakkan bahwa “saya hindu” dan “kita semua hindu”. Mulai dari sekarang kita harus belajar bagaimana menyesuaikan yadnya yang kita lakukan dengan keadaan yang kita miliki jangan sampai memberatkan diri sendiri atau orang lain dalam beryadnya.

Satyam Eva Jayate ... !!!

You Might Also Like

4 komentar

  1. Suksma mister silakan terus berkunjung

    BalasHapus
  2. Satyam eva jayate!
    Masih ada kata yang kekuarangan dan kelebihan huruf-huruf, coba di perbaiki, namun dari konidisi tersebut dapat dilihat bahwa inilah karya orisinil dari genetic muda hindu.
    Di lain sisi, kata "nista" itu selanjutnya perlu diketahui bahwa yang tepat adalah "kanistha". Suksma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaya ....

      Suksma atas masukkannya bli, semoga kedepannaya bisa terus memberikan karya yang terbaik

      Hapus

Total Tayangan Halaman