Bali terkenal bukan hanya
dari alam yang indah dan budaya yang dimilikinya selain itu bali juga memiiki
keindahan yang terpendam yaitu bahasa, aksara dan sastra bali yang sangat adi luhur.
Tak banyak dari kita saat ini menggunakan bahasa, aksara dan sastra bali dalam
kehidupan bermasyarakat padahal itu merupakan warisan leluhur kita yang perlu
dijaga keberadaannya. Banyak orang lebih memilih menggunakan bahasa non
bali dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan keberadaan bahasa, aksara
dan sastra bali mulai memudar dikalangan masyarakat. Kita sebagai masyarakat
bali pada khususnya harus bangga ketika kita menggunakan dan mencintai bahasa,
aksara dan sastra bali yang kita miliki dan sebaliknya
jangan pernah merasa malu untuk menggunaan bahasa, aksara dan sastra bali yang
menjadi wahana tumbuh dan berkembangnya kebudayaan bali.
(sumber : https://paduarsana.com/2018/05/18/pura-tap-sai-rendang-karangasem/)
Seperti pepatah yang mengatakan kalau bukan kita,
siapa lagi ? kalau bukan sekarang, kapan lagi ? Sebagai generasi
millenial harus terus memberikan contoh yang baik
terhadap kelangsungan bahasa, aksara dan sastra bali kedepannya, contohnya
dengan zaman yang serba digital ini generasi millenial sekarang harus berani keluar dari “zona nyaman” dan membuat konten-konten
yang berisikan bahasa, aksara dan sastra bali misalnya membuat vlog dengan
bahasa, aksara dan sastra bali, membuat konten blog dengan bahasa, aksara dan
sastra bali, membuat konten youtube dengan
bahasa, aksara dan sastra bali serta masih banyak yang bisa dilakukan dengan bantuan
media sosial dan internet. Karena tanpa kita sadari bahasa, aksara dan sastra
bali akan terus digunakan dalam kehidupan masyarakat khususnya kehidupan masyarakat
Bali itu sendiri. Ketika tidak dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk belajar
dan mengasah serta menggunakan bahasa, sastra dan aksara bali yang kita miliki terus siapa lagi yang kita suruh apakah masyarakat lain diluar sana, jangan sampai kita dikalahkan oleh
orang dari “dauh tukad”. Karena diluar
sana sudah ada contoh orang luar lebih mencintai bahasa, aksara dan sastra bali.
(sumber : https://www.balipuspanews.com/siswi-muslim-ikut-semarakan-menulis-lontar-massal-di-gedung-ksiarnawa.html)
Sebagai generasi millenial dan masyarakat bali harus ikut andil dalam membantu
program pemerintah daerah khususnya Pergub No. 80 Tahun 2018 tentang pelindungan
dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra bali serta penyelenggaraan bulan
bahasa bali. Masyarakat bali pada khususnya harus mampu menerapkan Pasal 3,4,5,6,7,
dan 8 dalam penggunaan bahasa bali, aksara bali dan penyelenggaraan bulan
bahasa bali dalam Pergub No. 80 Tahun
2018. Selain itu pemerintah daerah tanpa segan akan memberikan penghargaan
kepada perseorangan, kelompok, dan/atau lembaga yang berjasa terhadap kemajuan
bahasa, aksara, dan sastra bali dengan memberikan penghargaan “Bali Kerti Nugraha Mahotama” terhadap
sebanyak-banyaknya 3 (tiga) penerima dengan melibatkan 7 (tujuh) orang penilai
yang sesuai dengan isi Pasal 12 dan 13.
(sumber : http://www.balipost.com/news/2018/10/05/57746/Krama-Bali-Diharapkan-Mendukung-Penggunaan...html)
Selain
pergub diatas, pemerintah harus memperhatikan dunia pendidikan khususnya
pendidikan bahasa bali. Bagaimana nantinya pendidikan bahasa bali bisa menambah
jam pelajaran dan tentunya lebih dari sekali dalam seminggu. Hal ini bertujuan
untuk membiasakan dan mengasah kemampuan peserta didik bali agar mampu bekomunikasi
yang baik dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan ikut andilnya pemerintah dan peran aktif dari semua
kalangan bahasa, aksara dan sastra bali akan tetap ajeg dan manjadi warisan pada generasi
selanjutnya serta mejadi warisan budaya Indonesia
dan warisan budaya Dunia.
- Juli 14, 2019
- 0 Comments









