Diriku Adalah Dirimu

Juni 17, 2018

         Sebagai umat beragama kita patut berbangga karena agama yang kita anut memiliki berjuta ajaran yang membuat seluruh umat dijauhkan dari hal saling membeci, menyakiti, menghina, dan tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) saling bahu-membahu untuk membantu satu sama lainnya. Tentu kita masih ingat dengan pelajaran pada saat Sekolah Dasar (SD) bagaimana guru mengajarkan untuk tidak saling menyati satu sama lain karena itu merupakan gambaran kita sebagai manusia. Dalam ajaran agama Hindu, tindakan ini disebut dengan istilah Tat Twam Asi (Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku).


(sumber: https://hindualukta.blogspot.com)

         Ajaran Tat Twam Asi ini mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik kepada orang lain karena pada hakikatnya jika kita melakukan hal buruk kepada orang lain tentu kita akan menjadi lebih buruk dari mereka yang tersakiti. Jadi, jangan pernah membanggakan diri jika kita menyakiti ciptaan Tuhan, tapi berbanggalah jika kita mampu saling mengasihi antara ciptaanya. Ketika kita mampu untuk menolong orang lain maka diri kita juga akan tertolong. Jika kita mampu memuji orang lain maka diri kita juga akan terpuji. Sebaliknya, jika menyakiti orang lain tentu akan menyakiti diri kita sendiri. Jadi kita harus ingat semua orang itu sama tidak ada yang berbeda yang membedakan adalah perbuatan mereka apakah baik atau buruk.

(sumber: https://minanews.net)

         Contoh nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mengenai Tat Twam Asi adalah coba tunjuk orang yang kalian anggap jahat, hina, miskin, salah atau bodoh menggunakan tangan. Tentu secara spontan 2 (dua) jari kita akan menunjuk orang lain, selebihnya 3 (tiga) jari  lainnya tanpa disadari menunjuk diri kita sendiri. Jika kita persentasekan maka perbandingannya adalah 40% menunjuk orang lain dan 60% menunjuk diri kita sendiri. Terlihat jelas bahwa lebih besar persentase jari tangan yang menunjuk diri kita sendiri bukan? Oleh karena itu, bisa disimpulkan ketika kita menujuk orang lain jahat, hina, miskin, bodoh atau hal buruk lainnya tentu diri kita akan jauh lebih jahat, hina, miskin, bodoh dan hal buruk lainnya. Namun sebaliknya ketika kita mampu untuk mengatakan baik kepada orang lain walapun kita tersakiti tentu diri kita akan jauh lebih baik dari pada orang lain. Namun hal parah akan terjadi kepada kita ketika kita menunjuk orang lain dalam keadaan kesal, marah dan emosional tinggi, maka akan menunjuk orang lain dengan tangan “dikepal” sehingga sepenuhnya 100% jari tangan akan mengarah ke kita dan bisa dibilang kita jauh lebih buruk dari pada orang lain. Sebagai suatu contoh lagi dalam kehidupan masyarakat di Bali ketika kita mengatakan orang lain jahat tanpa sebab yang jelas atau didasari dengan emosional yang tinggi maka bisa dikatakan “mekecuh marep menek” yang artinya ketika kita berludah ke atas maka barang tentu diri kita sendiri yang akan kena, jadi hati-hatiah dalam menggunaan pikiran, perkataan dan perbuatan kita.

(sumber: http://www.marjinnews.com)

        Pandangan-pandangan seperti itu harus kita pupuk untuk membuat kehidupan selalu diselimuti dengan kebahagiaan dan keharmonisan. Apalagi, dalam adat istiadat Hindu di Bali sudah dikenal beberapa istilah dalam kehidupan menyama braya, diantaranya: (1) asas suka duka, yang artinya dalam suka maupun duka akan kita rasakan bersama, (2) asas paras paros yang artinya orang lain merupakan bagian dari kita dan kita merupakan bagian dari orang lain, (3) asas selunglung sebayantaka artinya baik buruk mati hidup ditanggung bersama, (4) asas saling asah, asih, dan asuh, artinya saling memberi dan mengoreksi, saling menyayangi atau mencintai, dan saling tolong menolong antar sesama makhluk hidup. Dengan ajaran-ajaran saling memiliki Agama Hindu seperti itu pantas umatnya selalu mengatakn bahwa hindu hebat, hindu mulia, hindu keren dan hindu dharma serta tidak ada ketakutan dan keraguan untuk mengatakan bahwa Saya Hindu, dan saya bangga menjadi seorang Hindu”. Semoga kita selalu hidup rukun dengan siapapun dan selalu berada dijalan kebenaran.

sama-duḥkha-sukhaḥ sva-sthaḥ
sama-loṣṭāśma-kāñcanaḥ
tulya-priyāpriyo dhīras
tulya-nindātma-saḿstutiḥ

mānāpamānayos tulyas
tulyo mitrāri-pakṣayoḥ
sarvārambha-parityāgī
guṇātītaḥ sa ucyate

Terjemahan
Orang yang teguh, sudah mantap didalam dirinya, akan selalu berikap sama dalam suka dan dalam duka, yang memiliki pandangan sama terhadap segumpal tanah, sebongkah batu dan sekeping emas, mampu bersikap sama terhadap yang disayang dan tidak disayang, bersikap sama pula dalam cacian dan pujian terhadap dirinya, bersikap sama terhadap penghormatan dan penghinaan, bersikap sama terhadap pihak kawan atau lawan, selalu berusaha melepas diri dari ikatan-ikatan awal perbuatan, orang yang mempunyai ciri-ciri seperti itu dikatakan sebagai orang yang sudah mampu mengatasi sifat-sifat alam.
(Bhagavad Gita, Adhyaya XIV Sloka 24-25)

Satyam Eva Jayate !

You Might Also Like

0 komentar

Total Tayangan Halaman