- Juni 20, 2018
- 1 Comments
Bicara
masalah Agama Hindu tidak terlepas dari ritual yang dilaksanakan apalagi yang
berada di Pulau Bali. Sebagai Agama Hindu yang tinggal di Pulau Bali barang
tentu sudah tidak asing melihat berbagai ritual yang ada mulai dari yang kanista hingga yang utama. Namun yang kita lihat banyak masyarakat Hindu di Bali yang
menyalah artikan makna dari sebuah ritual atau yang lebih dikenal dengan nama
yadnya. Yadnya kita ketahui merupakan persembahan suci yang dilakukan
dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dengan dasar dharma.
(sumber: http://phdi.or.id)
Dalam
pelaksanaannya, tak sedikit orang yang menyalahartikan makna dari yadnya
tersebut. Mereka seakan berlomba untuk menghaturkan sesajen (banten) dengan
menggunakan buah-buahan mahal, jajanan dengan brand tertentu, sampai ada yang menggunakan minuman-minuman kaleng
sekalipun. Meskipun pada kenyaataannya, mereka tidak cukup mampu untuk
melakukan itu. Seringkali yadnya ini dilakukan dengan menghutang kepada orang
lain hanya untuk memuaskan keinginannya. Padahal dalam weda yaitu pancama weda
atau weda kelima yang sering disebut Bhagavad Gita sudah dijelaskan dalam Adhyaya IX Sloka 26 yang berbunyi sebagai berikut :
patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ
yo me bhaktyā prayacchati
tad ahaḿ bhakty-upahṛtam
aśnāmi prayatātmanaḥ
Terjemahan
Mereka yang
dengan penuh rasa bhakti mempersembahkan kepada-ku (walaupun hanya selembar
daun), (sekuntum) bunga, (satu) buah dan (setetes) air, (jika) semua itu
dipersembahkan dengan penuh bhakti oleh mereka yang berhati suci murni, maka
Aku akan menerimanya.
Secara
singkatnya bisa diartika bahwa Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak
mengingikan begitu banyak persembahan namun cukup dengan daun, bunga, buah dan
air jika semua itu didasari dengan rasa tulus dan ikhlas maka Tuhan akan
menerimanya tanpa perlu kita menghabisakan banyak uang namun didasari dengan
ketidaktulusan.
(sumber: http://sejarahharirayahindu.blogspot.com)
Mungkin
banyak masyarakat hindu belum mengetahui sloka yang disebut diatas, karena
sebagai masyarakat hindu harus kita sadari bawasannya Ida Sang Hyang Widi Wasa
tidak menuntut agar kita menyembahkan begitu banyak persembahan namun yang beliau
inginkan bagaimana kita mampu mempersembahkan sesuatu dengan rasa bhakti dan
tulus ikhlas. Saya bangga akan ajaran agama hindu yang tidak menuntut lebih
dari umatnya. Ketika kita mempunyai hal yang lebih sewajarnya kita beryadnya
dengan beliau namun ketika kita tidak punya apa-apa jangan “sok” memiliki
banyak dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan untuk diri sendiri.
Kita sebagai generasi muda
sepantasnya meluruskan apa yang patut untuk diluruskan agar kedepannya agama
yang kita cintai ini terus berkembang dan semakin banyak untuk yang menganut
ajaranya yang begitu luhur dan berpegang teguh akan ajaran kebenaran “dharma”.
Karena ketika kita lihat ajaran agama hindu tidak ada yang memberatkan umatnya
namun kita sebenarnya menyalahartikan semua yang ada, yang masih beranggapan
bahwa ketika kita mempersembahkan sesuatu yang banyak maka pahala yang kita
dapatkan juga begitu banyak. Namun dibalik persembahan yang “maha agung” itu
terdapat berbagai kendala yang membuat kita tidak ikhlas dalam melakukan
yadnya.
Seperti kata orang tua dulu “sesuaiang ajak isin kantong” yang
artinya sesuaikan dengan uang yang kita miliki jangan sampai biar kelihatan
“wahhh” mengorbankan asas yadnya itu sendiri. Karena di era digital ini banyak
masyarakat yang mengunggah banten atau persembahan ke sosial media untuk
mendapatkan simpati atau like yang
begitu banyak. Tuhan juga mengetahui mana yang benar-benar tulus beryadnya dan
mana yang hanya untuk mencari sensasi atau pamer semata.
Karena agama hindu tidak pernah
memberatkan umatnya, maka dari itu kita pantas bilang Agama Hindu itu keren, hebat,
indah, damai, universal, suci, dharma dan lain sebagainya. Sepantasnya juga
kita semua meneriakkan bahwa “saya hindu” dan “kita semua hindu”. Mulai dari
sekarang kita harus belajar bagaimana menyesuaikan yadnya yang kita lakukan
dengan keadaan yang kita miliki jangan sampai memberatkan diri sendiri atau
orang lain dalam beryadnya.
Satyam Eva Jayate
... !!!
- Juni 17, 2018
- 4 Comments
Sebagai umat beragama
kita patut berbangga karena agama yang kita anut memiliki berjuta ajaran yang
membuat seluruh
umat dijauhkan dari hal saling membeci, menyakiti,
menghina, dan
tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan
(SARA) saling
bahu-membahu untuk membantu satu sama
lainnya. Tentu kita masih ingat dengan pelajaran pada saat
Sekolah Dasar (SD)
bagaimana guru mengajarkan untuk tidak saling menyati satu sama lain karena itu
merupakan gambaran kita sebagai manusia. Dalam ajaran agama Hindu,
tindakan ini disebut dengan istilah Tat Twam Asi (Aku adalah Kamu dan Kamu
adalah Aku).
(sumber: https://hindualukta.blogspot.com)
Ajaran Tat Twam Asi ini mengajarkan
kita untuk selalu berbuat baik kepada orang lain karena pada hakikatnya jika
kita melakukan hal buruk kepada orang lain tentu kita akan menjadi lebih buruk
dari mereka yang tersakiti. Jadi, jangan pernah membanggakan diri jika kita menyakiti ciptaan Tuhan, tapi berbanggalah jika kita mampu saling mengasihi antara
ciptaanya. Ketika kita mampu untuk menolong orang lain maka diri kita
juga akan tertolong. Jika kita mampu memuji orang lain maka diri kita
juga akan terpuji.
Sebaliknya, jika menyakiti orang lain tentu akan menyakiti diri
kita sendiri. Jadi kita harus ingat semua orang itu sama tidak ada yang berbeda
yang membedakan adalah perbuatan mereka apakah baik atau buruk.
(sumber: https://minanews.net)
Contoh nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mengenai Tat Twam Asi
adalah coba
tunjuk orang yang
kalian anggap jahat, hina,
miskin, salah atau bodoh menggunakan tangan. Tentu secara spontan 2 (dua) jari kita akan menunjuk
orang lain, selebihnya 3 (tiga) jari
lainnya tanpa disadari menunjuk diri kita sendiri. Jika kita
persentasekan maka perbandingannya adalah 40% menunjuk orang lain dan 60%
menunjuk diri kita sendiri. Terlihat
jelas bahwa lebih besar
persentase jari tangan yang menunjuk diri kita sendiri
bukan? Oleh karena itu,
bisa disimpulkan ketika kita menujuk orang lain jahat, hina, miskin, bodoh atau
hal buruk lainnya tentu diri kita akan jauh lebih jahat, hina, miskin, bodoh dan
hal buruk lainnya. Namun sebaliknya ketika kita mampu untuk mengatakan baik
kepada orang lain walapun kita tersakiti tentu diri kita akan jauh lebih baik
dari pada orang lain. Namun hal parah akan terjadi kepada kita ketika kita
menunjuk orang lain dalam keadaan kesal, marah dan emosional tinggi, maka akan
menunjuk orang lain dengan tangan “dikepal” sehingga sepenuhnya 100% jari
tangan akan mengarah ke kita dan bisa dibilang kita
jauh lebih buruk dari pada
orang lain. Sebagai suatu contoh lagi dalam kehidupan masyarakat di Bali ketika
kita mengatakan orang lain jahat tanpa sebab yang jelas atau didasari dengan
emosional yang tinggi maka bisa dikatakan “mekecuh
marep menek” yang artinya ketika kita berludah ke atas maka barang tentu
diri kita sendiri yang akan kena, jadi hati-hatiah dalam menggunaan pikiran,
perkataan dan perbuatan kita.
(sumber: http://www.marjinnews.com)
Pandangan-pandangan seperti itu
harus kita pupuk untuk membuat kehidupan selalu diselimuti dengan kebahagiaan
dan keharmonisan. Apalagi, dalam adat istiadat Hindu di Bali
sudah dikenal beberapa istilah dalam kehidupan menyama braya, diantaranya: (1) asas suka duka, yang artinya dalam suka maupun duka akan kita
rasakan bersama, (2) asas paras paros
yang artinya orang lain merupakan bagian dari kita dan kita merupakan bagian dari
orang lain, (3)
asas selunglung sebayantaka artinya
baik buruk mati hidup ditanggung bersama, (4) asas saling
asah, asih, dan asuh, artinya saling
memberi dan mengoreksi, saling menyayangi atau mencintai, dan
saling tolong menolong antar sesama makhluk hidup. Dengan ajaran-ajaran saling
memiliki Agama Hindu seperti itu pantas umatnya selalu mengatakn bahwa hindu
hebat, hindu mulia, hindu keren dan hindu dharma serta tidak ada ketakutan dan
keraguan untuk mengatakan bahwa
“Saya Hindu, dan saya bangga menjadi seorang Hindu”. Semoga kita selalu hidup rukun dengan
siapapun dan selalu berada dijalan kebenaran.
sama-duḥkha-sukhaḥ
sva-sthaḥ
sama-loṣṭāśma-kāñcanaḥ
tulya-priyāpriyo
dhīras
tulya-nindātma-saḿstutiḥ
mānāpamānayos
tulyas
tulyo
mitrāri-pakṣayoḥ
sarvārambha-parityāgī
guṇātītaḥ
sa ucyate
Terjemahan
Orang yang teguh, sudah mantap didalam dirinya, akan
selalu berikap sama dalam suka dan dalam duka, yang memiliki pandangan sama
terhadap segumpal tanah, sebongkah batu dan sekeping emas, mampu bersikap sama
terhadap yang disayang dan tidak disayang, bersikap sama pula dalam cacian dan
pujian terhadap dirinya, bersikap sama terhadap penghormatan dan penghinaan,
bersikap sama terhadap pihak kawan atau lawan, selalu berusaha melepas diri
dari ikatan-ikatan awal perbuatan, orang yang mempunyai ciri-ciri seperti itu
dikatakan sebagai orang yang sudah mampu mengatasi sifat-sifat alam.
(Bhagavad Gita, Adhyaya XIV Sloka 24-25)
Satyam
Eva Jayate !
- Juni 17, 2018
- 0 Comments
Agama
Hindu mengajarkan cinta kasih terhadap semua ciptaan Tuhan. Salah satu yang
mendasar dilakukan adalah dengan mengasihi alam lingkungan. Namun hal itu
banyak mendapatkan cemohan dari berbagai pihak, ada yang menyebutkan bahwa Hindu
adalah agama yang menyembah batu, binatang, tumbuhan, perak, perunggu dan lain
sebagainya. Padahal, konsep ini sangat mendasar yaitu mencintai dan menanamkan
kasih pada semua ciptaanya. Maka dari itu kita harus bangga terhadap Agama Hindu karena setiap ajarannya mengandung makna yang mendalam jika kita implementasikan maka niscaya hidup kita akan menjadi damai,
tentram dan selalu berbahagia.
(sumber: https://dharmavada.wordpress.com)
Bayangkan
kalau lingkungan yang memberikan kita kehidupan, kita pelihara
maka kita akan selalu berbahagia dan damai dalam menjalani setiap hal. Dalam
ajaran Agama Hindu menyayangi lingkungan diwujudkan dalam sebuah upacara
“Tumpek Uduh” yaitu upacara
untuk mencintai tumbuh-tumbuhan. Perlu diketahui bahwa peran tumbuh-tumbuhan
dalam kehidupan sangat vital, karena ketika tidak ada tumbuh-tumbuhan apakah
manusia itu akan hidup? Tentu jawabannya sangat mudah yaitu TIDAK karena tumbuhan
sangat berperan penting dalam memberikan udara yang segar, memberikan kita pangan,
papan, dan sandang maka sepatasnya kita harus cinta kasih terhadap ciptaanya.
Bagi sebagian orang yang menghina mungkin mereka tidak menanamkan konsep “memanusiakan lingkungan”.
Dalam
setiap prosesi Agama Hindu tentu dilakukan
dengan menghaturkan persembahan (banten) persembahyangan. Terkait dengan
sembayang yang dilakukan dalam tumpek uduh bukan untuk menyembah
tumbuh-tumbuhannya melainkan disini kita menyembah Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi
Wasa dengan segala menifestasinya. Karena itu merupakan ciptaan Tuhan yang pantas kita jaga dan kasihi dan
berterimaksih juga kepada beliau atas segala hal yang sudah diberikan dalam
menjalani kehidupan dimuka bumi ini.
(sumber: http://baliplus.com)
Salah
satu contoh nyata dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara adalah pada saat melaksanakan upacara bendera setiap Senin yang kita laksanakan pada saat masih duduk
dibangku sekolah apalagi pada saat 17 Agustus, semua bangsa Indonesia
menghormati bendera merah putih yang merupakan bendera negara Indonesia. Walaupun dalam
melaksanakan hal ini banyak dana yang dikeluarkan apalagi upacara yang
dilakukan di Istana Negara. Namun pertanyaannya apakah kita menghormati berupa
kain merah dan putih, sampai menghabiskan begitu banyak dana ?... Tentu itu
tidak. Karena pada saat itu kita menghormati kebangsaan kita yang menjadi
kebanggaan kita bersama. Jadi itulah bukti hebatnya Agama Hindu yang mengajarkan
cinta kasih terhadap semua ciptan Tuhan. Dengan segala kekurangan yang kita miliki sekarang mari terus
berbenah dan mencintai sesama khususnya lingkungan disekitar kita karena dalam ajaran
Agama Hindu sudah dimuat hal itu jangan sampai kita terus merusak lingkungan
selain kita akan mendapatkan phala
dari perbuatan juga dapat menimbulkan bencana alam sebagai contoh banjir,
longsor dan sebagainya.
Maka
kita pantas mengatakan bahwa hindu itu hebat, keren, damai, kasih, dan lainnya
karena semua ajaranya memang untuk membuat manusia menjadi benar-benar manusia
yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling
sempurna. Mari terus berbenah kerena tidak ada kata terlambat mari terus
berbuat kebaikan seperti dalam Bhagavad Gita,
yadā sattve pravṛddhe tu
pralayaḿ yāti deha-bhṛt
tadottama-vidāḿ lokān
amalān pratipadyate
Terjemahan
Ketika
sifat-sifat kebaikan yang berkembang, dan jika pada saat itu orang mengalami
kematian, maka sang roh akan mencapai alam-alam tempat para resi mulia yang suci
tanpa cela.
(Bhagavad Gita Adhyaya 14
Sloka 14)
Bangga menjadi Hindu, Saya Hindu, Kamu Hindu, Dia
Hindu, Mereka Hindu dan Kita semua Hindu.
- Juni 16, 2018
- 0 Comments
Disini
saya ingin membahas mengenai ajaran Agama Hindu yang mengajarkan arti sebuah
hasil dari perbuatan yang dilakukan. Karma Phala ... Iya Karma Phala adalah
hasil dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia entah itu baik atau buruk
sesuai dengan karma yang dilakukan. Karma Phala ini dibagi menjadi tiga yaitu
Sancita Karma Phala, Prarabdha Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala. Sancita Karma Phala merupakan hasil
yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya sebagai contoh ketika ada orang yang
berbuat jahat namun tidak dipenjara atau hidupnya selalu bahagia maka bisa
dikatakan dia masih menikmati hasil dari perbuatan yang terdahulu. Prarabdha Karma Phala merupakan perbuatan yang dilakukan
pada kehidupan saat ini dan phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga sebagai contoh
ketika kamu memukul teman kamu yang tidak bersalah, dan berselang beberapa jam
kamu dipukul orang tua bisa dibilang itu merupakan Prarabdha Karma Phala. Kriyamana Karma Phala perbuatan yang dilakukan
pada kehidupan saat ini, namun phalanya akan
dinikmati pada kehidupan yang akan datang sebagai contoh ketika kamu
sudah bekerja dengan mati-matian namun masih saja kekurangan dan bahkan
sampai-sampai tidak makan bisa dikatakan itu merupaka kamu masih menikmati
hasil perbuatan yang terdahulu.
(sumber: https://blogartayana.wordpress.com)
Lalu, apakah ajaran Karma Phala itu penting ? Tentu sangat
penting. Kita diajarkan bagaimana
menjadi seorang manusia “manut teken
sesana” yang tidak hanya menyabet title
sebagai Tri Pramana yang bisa berpikir, berkata dan berbuat namun
tidak digunakan sebagai mana mestinya, karena berpikir yang buruk akan membuat
perkataan menjadi buruk dan perbuatan pun menjadi
sangat buruk. Maka dari itu, hati-hati dalam
berpikir, berkata, dan berbuat jangan sampai melukai sesama ciptaan Tuhan, karena
kita harus ingat akan dahyatnya hukum karma phala itu sendiri. Sebagai contoh
dalam kehidupan sehari-hari ketika kita menanam padi tentu padi yang akan kita
panen, ketikan kita menebang pohon jati tentu pohon jati yang kita dapatkan,
ketika kita minum susu tentu rasa susu yang kita nikmati. Begitu pula hukum
karma itu berjalan ketika kita berbuat baik tentu hal baik yang akan kita
dapatkan dan ketika kita berbuat buruk tentu hal buruk yang akan menghampiri
entah kita dapatkan sekarang atau dikehidupan yang akan datang.
(sumber: https://nithinsridhar.wordpress.com)
Bayangkan
jika ajaran Karma Phala tidak ada,
tentu
semua manusia benbondong-bondong menggunakan segala cara
demi tercapai keinginannya entah lewat jalur buruk sekalipun yang tidak
memandang apakah orang lain tersakiti atas perbuatanya atau tidak. Hal ini tentu memicu terjadinya kehancuran dan tentunya kegelapan yang tidak dapat terelakkan lagi. Jadi berbanggalah
sampai detik ini kita masih berada dalam Ajaran Agama Hindu yang mengatur sedemikian
detail mengenai apa yang kita lakukan untuk menjadikan manusia ke arah yang lebih
baik sesuai dengan kodrat “ Manusia adalah
ciptaan
Tuhan yang paling sempurna” yang seharusnya bisa menyayangi
sesama tidak membedakan
dari suku, ras, agama dan antar golongan apapun itu karena kita semua sama-sama
ciptaan Tuhan yang harus selalu saling menyayangi. Maka sepantasnya kita bisa sampaikan bahwa hindu hebat,
hindu keren, dan jangan pernah malu mengatakan kepada semua orang bahwa saya
hindu saya cinta hindu yang selalu mengajarkan umatnya berpikir sebelum berkata
dan bertindak karena hasil nantinya mencerminkan perbuatan yang kita lakukan. Dalam
Bhagavad Gita, Adhyaya XIV Sloka 16
bebunyi sebagai berikut :
karmaṇaḥ sukṛtasyāhuḥ
sāttvikaḿ nirmalaḿ phalam
rājā sas tu phalaḿ duḥkham
ajñānaḿ tamasaḥ phalam
Terjemahan
Perbuatan
mulia dikatakan merupakan pahala murni dari sifat kebaikan. Perbuatan-perbuatan
dalam sifat kenafsuan memberikan pahala berupa kedukaan, dan kebodohan
dikatakan segabai pahala dari sifat kegelapan.
Satyam Eva
Jayate ...!!!
- Juni 08, 2018
- 1 Comments
Sosial media juga menjadi
primadona bagi siapa saja yang pernah berhubungan dengannya,
baik untuk berkomunikasi maupun sebagai tempat untuk mencari informasi. Dengan
maraknya pemanfaatan sosial media, cyber crime
pun tak terelakkan. Tak sedikit oknum
yang tidak bertanggungjawab menggunakan sosial media untuk
menipu dan menyebarkan berita bohong (hoax) yang sangat
meresahkan, seperti yang sering terjadi belakangan ini. Lalu, bagaimanakah cara kita
menanggapinya?
(sumber : http://metroterkini.com)
Seharusnya sebagai genarasi
muda yang hidup di zaman milenial ini selayaknya “Arjuna Digital”,
kita bisa
mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah. Apalagi kita sebagai arjunanya Agama Hindu yang kaya
akan nilai-nilai luhur. Kita harus bisa menyaring informasi yang ada agar bisa
mempertimbangkan mana yang pantas untuk disebarluaskan dan yang mana tidak
pantas untuk disebarluaskan. Selain itu kita sebagai generasi
muda hindu harus
mampu berperan aktif dalam bersosial media yang keberadaannya
sudah tidak bisa kita
tolak
lagi. Bagaimana
caranya?
Peran yang bisa diambil sebagai Arjuna Digital adalah ikut mengisi
konten-konten yang ada dalam sosial media entah itu dalam facebook, instagram, twitter, youtube, dan lainnya dengan hal-hal yang berbau positif. Misalnya, meng-upload berbagai konten yang topiknya tentang Agama Hindu seperti sejarah
perkembangan Agama Hindu, ajaran Agama Hindu, cara membuat banten, cerita mahabarata, mengaitkan kehidupan dengan ajaran Agama
Hindu dan masih banyak lagi hal lainnya. Tentunya hal yang mudah sebagai Arjuna
Digital untuk membuat “hindu hebat” pada nantinya.
(sumber : http://www.sekolahbisnis1m.com)
Jangan sampai kita terus
menerima tanpa ada memberikan suatu manfaat karena yang kita terima pun belum tentu bermanfaat. Janganlah terus berbangga akan kemudahan yang kita
dapatkan sekarang karena itu merupakan tantangan apakah kita mampu memanfaatkan
dengan baik atau malah kalah dan pada akhirnya hanya menyalahkan keadaan. Mulai dari sekarang, berbenahlah! Kita isi sosial media dengan konten-konten ke-hindu-an agar semua orang tahu bahwa hindu itu keren, hindu itu hebat, hindu itu
dharma dan hindu itu milik kita semua.
Sebagai generasi penerus,
saat ini kita harus bisa memberikan
contoh kepada generasi lanjut usia ataupun generasi muda yang akan
melanjutkan perjuangan ini, bahwa kita bisa untuk meng-ajeg-kan hindu lewat cara kita masing-masing dan
tentunya sesuai dengan ajaran dharma. Semua orang layak untuk mengetahui bahwa anak muda hindu bisa memanfaatkan sosial media
dengan baik serta cerdas dalam bersosial media. Jangan sampai kita diberdayakan oleh sosial media itu sendiri, serta harapan bahwa Agama Hindu yang kita cintai ini bisa berjaya kembali
selayaknya pada zaman kerajaan dahulu, dan nantinya semua orang akan mengatakan saya
hindu, hindu hebat, hindu mulia, hindu dharma, hindu keren dan hindu selamanya.
uddhared ātmanātmānaḿ
nātmānam avasādayet
ātmaiva hy ātmano bandhur
ātmaiva ripur ātmanaḥ
Terjemahan
Setiap
orang hendaknya menyelamatkan Sang Dirinya melalui dirinya sendiri, dan
hendaknya ia tidak membuat dirinya merosot dalam kejatuhan. Oleh karena diri
sendiri adalah sahabat terbaik bagi Sang Diri dan diri sendiri adalah musuh
berbahaya bagi Sang Diri.
(Bhagavad Gita, BAB VI Sloka 5)
~Satyam Eva Jayate~
- Juni 08, 2018
- 2 Comments










